Lompat ke konten

Artikel

Berapa biaya bikin toko online sendiri?

· 8 menit baca · ditulis Fiqhro Dedhen Supatmo

Angka yang dipajang di iklan hampir selalu harga tahun pertama. Itu bukan kebohongan, tapi juga bukan biaya bikin toko online — itu biaya memulainya. Tulisan ini merinci keduanya, sampai tahun ketiga.

Tiga jalur, dan siapa yang cocok di masing-masing

Ada tiga cara punya toko online, dan biayanya tidak sebanding karena yang dibeli memang berbeda.

  1. Numpang di marketplace. Gratis daftar. Bayarnya lewat komisi tiap transaksi.
  2. Bikin sendiri. Bayar domain dan hosting saja. Waktumu jadi ongkos yang tidak tercatat.
  3. Bayar orang. Ada yang menagih sekali, ada yang menagih tiap tahun. Perbedaan itu jauh lebih penting daripada angkanya.

Jalur 1: numpang di marketplace

Biaya di muka nol, dan itu sebabnya hampir semua orang mulai dari sini. Yang dibayar adalah potongan per transaksi, dan potongannya naik cukup sering.

Per 2026, komisi seller non-Mall di Tokopedia dan TikTok Shop berada di rentang 2,5%–12,2% tergantung kategori; Shopee bisa mencapai sekitar 10% untuk seller reguler dan lebih tinggi untuk Shopee Mall, ditambah biaya proses pesanan Rp 1.250 per transaksi selesai. Sejak 18 Mei 2026, batas maksimum komisi per item di Tokopedia naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 650.000 — perubahan yang nyaris tidak terasa untuk barang Rp 50 ribu, dan sangat terasa untuk barang jutaan. Sejak 1 Agustus 2026, marketplace besar juga memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5% bagi seller yang memenuhi kriteria.

Hitung sendiri dengan omzetmu, bukan dengan omzet contoh: omzet Rp 20 juta per bulan pada komisi 8% adalah Rp 1,6 juta sebulan, atau Rp 19,2 juta setahun. Untuk banyak penjual, angka setahunnya melampaui ongkos membuat website — dan itulah satu-satunya perbandingan biaya yang jujur di antara keduanya.

Yang jarang disebut: komisi itu wajar. Marketplace mengirimimu pembeli, dan itu jasa yang mahal untuk diadakan sendiri. Yang perlu diputuskan bukan "komisinya kemahalan atau tidak", tapi apakah seluruh penjualanmu harus lewat sana.

Jalur 2: bikin sendiri

Ini rincian yang benar-benar keluar dari dompet, per tahun:

KomponenKisaranCatatan
Domain .comRp 12.000 – 200.000/thnAngka belasan ribu itu promo tahun pertama
HostingRp 15.000 – 50.000/blnPaket termurah sering tidak kuat untuk WooCommerce
TemaRp 0 – 1.000.000Gratis ada; yang bagus biasanya sekali bayar
Plugin ongkir / pembayaranRp 0 – 3.000.000/thnBeberapa vendor menagih bulanan per fitur
Waktumu20–60 jamBelajar, pasang, gagal, ulang

Jebakan pertama: harga perpanjangan. Registrar memajang harga pendaftaran di iklan, sementara harga perpanjangan ada di kolom terpisah pada tabel yang sama — sering beberapa kali lipat. Sebelum membeli domain, cari kolom "Perpanjang" dan baca angkanya. Domain adalah alamat tokomu; kamu akan membayarnya setiap tahun selama toko itu hidup.

Jebakan kedua: waktumu tidak gratis. Empat puluh jam itu seminggu penuh kerja. Kalau seminggu itu bisa dipakai berjualan, ongkos sebenarnya jalur ini bukan Rp 500 ribu.

Meski begitu, jalur ini benar-benar masuk akal untuk dua orang: yang memang senang mengoprek, dan yang produknya masih sedikit sehingga tokonya sederhana. Kalau kamu salah satunya, tidak ada alasan membayar siapa pun.

Jalur 3: bayar orang — dan satu kata yang mengubah segalanya

Di sini harganya paling beragam, dari ratusan ribu sampai puluhan juta. Tapi yang paling menentukan bukan angkanya, melainkan satu kata di sebelahnya: "/tahun".

Jasa sekali bayar menagih di awal, lalu biaya perpanjangan yang jauh lebih kecil untuk domain dan hosting. Jasa berlangganan menagih angka penuh setiap tahun, selamanya. Di tahun pertama yang kedua terlihat jauh lebih murah. Di tahun ketiga urutannya berbalik.

ModelTahun 1Tahun 3Tahun 5
Sekali bayar Rp 1,5 jt + Rp 900 rb/thnRp 1.500.000Rp 3.300.000Rp 5.100.000
Langganan Rp 1,5 jt/thnRp 1.500.000Rp 4.500.000Rp 7.500.000
Langganan Rp 3 jt/thnRp 3.000.000Rp 9.000.000Rp 15.000.000

Ini bukan tuduhan bahwa model langganan curang. Ia memang menanggung server, pembaruan, dan dukungan selama kamu berlangganan. Yang perlu kamu sadari cuma satu: angka yang kamu bandingkan saat memilih adalah angka tahun pertama, sementara tokomu diharapkan hidup lebih lama dari itu.

Biaya yang hampir tidak pernah masuk daftar

  • Input produk. Foto, nama, harga, stok, deskripsi, dan varian. Untuk 50 produk ini pekerjaan berjam-jam, dan biasanya tidak termasuk kecuali disebutkan.
  • Foto produk. Foto marketplace sering berwatermark atau berlatar berantakan. Website memperbesar cacat yang tidak terlihat di thumbnail.
  • Potongan payment gateway. QRIS dan transfer otomatis punya MDR sendiri, di luar biaya pembuatan situs. Pastikan akunnya atas nama kamu, supaya uangnya tidak singgah di rekening orang lain.
  • Perbaikan setelah jadi. Tanyakan berapa lama masa dukungan, dan apa yang termasuk di dalamnya. "Support" tanpa batasan tertulis biasanya berarti dukungan sampai vendornya bosan.

Jadi berapa, ringkasnya?

Untuk toko online sungguhan yang bisa menerima pesanan — bukan sekadar katalog — biaya nyata di Indonesia pada 2026 kira-kira begini:

  • Bikin sendiri: Rp 500 ribu – 1,5 juta/tahun, plus 20–60 jam waktumu
  • Bayar orang, sekali bayar: Rp 1,5 – 6 juta di awal, lalu perpanjangan tahunan yang jauh lebih kecil
  • Bayar orang, langganan: Rp 1,2 – 3 juta/tahun, setiap tahun, tanpa akhir

Sebelum memilih salah satunya, tanyakan satu hal yang tidak ada di daftar harga mana pun: apa yang terjadi kalau suatu saat kamu berhenti bayar? Jawabannya menentukan apakah yang kamu beli itu aset atau sewa — dan itu selisih yang jauh lebih besar daripada semua angka di atas.