Lompat ke konten

Artikel

Domain .com atau .id untuk toko online?

· 6 menit baca · ditulis Fiqhro Dedhen Supatmo

Papan nama besar bertuliskan toko ABC di atas sebuah toko alat tulis

Jawaban pendeknya: kalau pembelimu di Indonesia, .com dan .id sama-sama baik. Pilih yang namanya masih tersedia dan paling gampang diucapkan. Tapi ada dua hal yang jauh lebih penting daripada ekstensi, dan dua-duanya sering baru disadari setahun kemudian.

Bedanya, dalam satu tabel

EkstensiSyaratKisaran harga
.comTidak ada dokumenPromo tahun pertama sering murah; perpanjangannya lain cerita
.idPerorangan boleh; PANDI mensyaratkan identitas sah, sebagian registrar baru memintanya belakanganSekitar Rp 220 rb daftar, Rp 250 rb perpanjang
.co.idKTP + NIB atau dokumen legalitas usahaSekitar Rp 280 rb/tahun
.my.id, .biz.idSama dengan .idSekitar Rp 25 rb/tahun

Harga di atas diambil dari tabel satu registrar besar saat artikel ini ditulis; registrar lain bisa berbeda puluhan ribu. Kolom yang perlu kamu baca di mana pun kamu membeli adalah kolom perpanjangan, bukan harga promo di spanduk. Kamu akan membayar angka perpanjangan itu setiap tahun selama tokomu hidup.

Apakah .id lebih disukai Google?

Sedikit, dan hanya untuk satu hal: ekstensi negara seperti .id memberi sinyal ke Google bahwa situsmu ditujukan untuk Indonesia. Untuk toko yang memang hanya mengirim ke Indonesia, itu tidak merugikan. Untuk .com, sinyal yang sama didapat dari bahasa halaman, alamat, dan mata uang rupiah. Selisihnya kecil sekali dibandingkan hal-hal yang dibahas di cara toko online muncul di Google. Jangan memilih ekstensi karena alasan ini saja.

Kapan .co.id layak dipertimbangkan

Kalau usahamu sudah punya NIB, .co.id memberi satu keuntungan yang tidak dimiliki ekstensi lain: pendaftarannya mensyaratkan dokumen usaha. Pembeli yang tahu hal ini membacanya sebagai tanda bahwa ada usaha terdaftar di baliknya. Kalau belum punya NIB, lupakan dulu; .id atau .com sama sekali tidak membuat tokomu terlihat kurang serius.

.my.id dan .biz.id murah dan sah, tapi lebih panjang diucapkan dan terdengar seperti proyek pribadi. Cocok untuk mencoba, kurang cocok untuk nama yang akan dicetak di kemasan.

Hal pertama yang lebih penting: nama yang bisa diucapkan

Nama domainmu akan dibacakan lewat telepon, ditulis di kardus kiriman, dan diketik orang dari ingatan. Tes sederhananya: ucapkan domainmu ke seseorang sekali saja, lalu minta dia mengetiknya. Kalau dia bertanya "pakai strip nggak?" atau "huruf c atau k?", cari nama lain.

  • Hindari tanda hubung dan angka, kecuali memang bagian dari merek.
  • Hindari ejaan yang bisa ditulis dua cara ("kripik" atau "keripik").
  • Kalau .com dan .id untuk namamu sama-sama tersedia dan murah, membeli keduanya lalu mengarahkan satu ke yang lain adalah asuransi yang murah.

Hal kedua yang lebih penting: atas nama siapa

Setiap domain punya pemilik terdaftar (registrant). Kalau domainmu dibelikan oleh pembuat website, tanyakan apakah yang tercatat namamu atau nama mereka. Kalau nama mereka, kamu hanya memakai alamat itu; pindah penyedia berarti mulai dari alamat baru, dan semua yang menempel pada alamat lama ikut hilang.

Cara mengecek, akibatnya, dan pertanyaan yang perlu kamu ajukan sebelum membayar, ada lengkap di apa yang terjadi kalau berhenti bayar langganan website?

Mengeceknya tidak perlu bertanya ke siapa pun: buka layanan WHOIS, ketik domainmu, dan lihat nama pemilik yang tercatat. Untuk .id, cek juga apakah registrar pernah meminta identitasmu. Domain yang didaftarkan "untukmu" tanpa satu pun datamu hampir pasti tercatat atas nama orang lain.