Lompat ke konten

Artikel

Jualan di Instagram dan WhatsApp saja, cukup nggak?

· 6 menit baca · ditulis Fiqhro Dedhen Supatmo

Perempuan berjilbab mengetik pesan di ponsel di depan kios oleh-oleh

Kami menjual jasa pembuatan website, jadi jawaban yang paling menguntungkan kami adalah "tidak cukup". Jawaban jujurnya lain: untuk banyak penjual, Instagram dan WhatsApp memang cukup. Yang perlu kamu ketahui adalah kapan "cukup" itu berhenti berlaku.

Kapan IG + WA sudah cukup

Kalau tiga hal ini benar, kamu belum perlu website, dan uangnya lebih berguna untuk stok atau foto produk:

  • Produkmu sedikit. Sepuluh atau dua puluh barang masih bisa dirangkum di sorotan Instagram atau katalog WhatsApp Business, yang gratis.
  • Pembelimu kebanyakan orang yang sudah kenal. Pelanggan tetap, tetangga, teman kantor. Mereka tidak butuh halaman checkout; mereka butuh kamu membalas.
  • Chat masih terasa menyenangkan. Tawar-menawar dan obrolan adalah bagian dari cara jualanmu, bukan beban.

Lima tanda cukup berhenti berlaku

  1. Kamu mengetik jawaban yang sama puluhan kali sehari. "Ready kak?", "Ongkir ke Makassar berapa?", "Warna lain ada?". Setiap pertanyaan itu sebenarnya sudah bisa dijawab oleh satu halaman produk.
  2. Pesanan tenggelam di antara chat. Kamu pernah lupa mengirim barang karena pesanannya tertimbun di bawah dua ratus pesan lain.
  3. Pembeli pergi saat harus menunggu balasan. Orang yang bertanya jam sebelas malam dan baru dibalas jam tujuh pagi sering sudah membeli di tempat lain.
  4. Kamu mencocokkan transfer dari foto bukti bayar. Dan sesekali ada yang nominalnya kurang, atau fotonya bukan transfer hari ini.
  5. Seluruh usahamu bergantung pada satu akun. Akun yang diretas, dibatasi, atau kena laporan palsu bisa hilang dalam semalam, bersama seluruh pengikut dan riwayat pesannya. Akun itu tunduk pada aturan pemilik platformnya, bukan aturanmu.

Yang bocor biasanya waktu, bukan uang

Ambil contoh sederhana: 30 chat sehari, masing-masing tiga menit untuk membaca, menjawab, dan menunggu balasan. Itu satu setengah jam setiap hari, atau sekitar 45 jam sebulan, hampir seminggu kerja penuh, dan sebagian besar untuk pertanyaan yang jawabannya sama.

Angka itu cuma ilustrasi; hitung dengan jumlah chatmu sendiri. Tapi kalau hasilnya membuatmu kaget, itulah biaya sebenarnya dari "cukup IG dan WA saja". Biayanya tidak muncul di tagihan mana pun, jadi jarang dihitung.

Jalan tengah sebelum membuat website

Sebelum membayar siapa pun, coba dulu yang gratis:

  • Katalog WhatsApp Business untuk harga dan foto, supaya pertanyaan "berapa harganya?" bisa dijawab dengan satu tautan.
  • Pesan cepat (quick replies) untuk jawaban yang berulang: ongkir, cara pesan, nomor rekening.
  • QRIS statis dari bank supaya pembeli tidak perlu bertanya nomor rekening. Bedanya dengan QRIS di website dijelaskan di artikel soal QRIS.

Kalau ketiganya sudah dipakai dan kamu masih tenggelam di chat, barulah website mulai masuk akal. Bukan sebagai pengganti Instagram dan WhatsApp, tetapi sebagai tempat pembeli menyelesaikan pesanan sendiri setelah kamu membuat mereka tertarik di sana.

Satu hal yang tidak dilakukan website: mendatangkan pembeli dengan sendirinya. Orang tetap menemukanmu lewat Instagram, WhatsApp, atau dari mulut ke mulut. Website mengurus apa yang terjadi sesudah mereka menemukanmu. Kalau yang kurang justru orang yang menemukanmu, website bukan jawabannya yang pertama.

Kalau kamu juga berjualan di marketplace, pertanyaan yang sama berlaku dengan angka yang berbeda. Baca pindah dari Shopee ke website sendiri: apa yang berubah?